HIV Dan Aids – Penyebab, Gejala Dan Pencegahan Penyakit HIV

HIV/AIDS Semakin Merajalela, Kenali Penyakit Berbahaya Ini Sekarang!

penyakit hiv atau aids dapat disembuhkan dengan jamur maitakeHIV (Human Immunodeficiency Virus) jenis virus ini bekerja secara aktif menyerang sistem imunitas tubuh manusia. Kemampuan tubuh akan menjadi lemah untuk melawan penyakit dan infeksi akibat dari serangan Human Immunodeficiency Virus.

Sedangkan AIDS merupakan stadium terakhir dari infeksi Human Immunodeficiency Virus. Pada tahapan ini, kemampuan tubuh melawan infeksi telah hilang sepenuhnya.

Di Indonesia, pertama kali ditemukan kasus infeksi virus ini sekitar tahun 1987. Bali merupakan provinsi pertama yang menjadi tempat ditemukannya kasus infeksi Human Immunodeficiency Virus di Indonesia. Menurut data UNAIDS, hingga tahun 2015, pengidap infeksi HIV di Indonesia sekitar 690.000 orang. Dan separuh dari jumlah pengidap tersebut adalah orang-orang dengan usia produktif antara 15 tahun sampai 49 tahun.

Jumlah kematian akibat penyakit AIDS berdasarkan data mencapai 35.000 orang. Diperkirakan jumlah anak-anak yang menjadi yatim piatu dikarenakan kematian orangtua mereka akibat penyakit AIDS sekitar 110.000 anak.

Dengan segeranya penderita HIV terdiagnosa, maka penanganan efektif dapat segera dilakukan. Dengan demikian, perubahan Human Immunodeficiency Virus menjadi AIDS dapat dicegah. Setidaknya perkembangan penyakit bisa diperlambat agar pengidapnya memiliki usia yang lebih panjang.

Tahapan dan Gejala HIV / AIDS

Infeksi Human Immunodeficiency Virus muncul dengan tiga tahapan. Berikut ini penjelasan mengenai tiga tahapan tersebut dan gejalanya :

1. Tahap Pertama

Tahapan serokonversi yakni periode dimana virus HIV sudah mulai berkembang. Pengidap pada tahapan awal ini akan menderita gejala yang mirip influenza. Gejala awal akan terjadi selama beberapa minggu hingga sekitar 2 bulan pasca terinfeksi. Kemudian pengidap Human Immunodeficiency Virus tidak merasakan gejala apapun dalam beberapa tahun.

Gejala awal yang paling umum ialah: sakit tenggorokan, diare, demam, munculnya ruam pada tubuh tetapi tidak terasa gatal, berat badan menurun, pembengkakan pada noda limfa, nyeri otot, nyeri sendi, dan kelelahan. Pada tahap serokonversi ini, virus sudah bisa ditularkan kepada orang lain.

2. Tahap Kedua

Tahapan inkubasi yakni periode dimana virus HIV tidak memunculkan gejala. Sesudah gejala awal hilang, maka pada umumnya virus berbahaya ini tidak memunculkan gejala lagi selama jangka waktu 10 tahun bahkan lebih lama.

Para pengidap yang meremehkan gejala pada tahapan serokonversi akan terkecoh dengan tahap kedua ini. Pengidapnya akan mengira diri mereka baik-baik saja, bahkan dengan nyaman menularkan kepada orang lain. Padahal virus ini terus menyebar serta merusak sistem imunitas tubuh pengidapnya.

3. Tahap Ketiga

Tahapan terakhir dari infeksi Human Immunodeficiency Virus. Pada tahapan ini HIV telah berubah jadi AIDS. Pengidapnya akan sangat mudah diserang penyakit serius. Gejala yang umumnya muncul di tahapan terakhir ini antara lain :

a. Noda limfa membengkak di bagian leher serta pangkal paha
b. Merasakan kelelahan parah setiap hari
c. Demam dan berkeringat terutama malam hari
d. Berat badan menurun
e. Munculnya bintik di kulit yang tidak bisa hilang dan berwarna ungu
f. Mengalami sesak nafas
g. Diare berkelanjutan
h. Munculnya infeksi di sekitar tenggorokan maupun alat kelamin
i. Mudah mengalami memar maupun berdarah tanpa penyebab pasti.
Pada tahapan akhir ini pengidap AIDS mudah terserang penyakit mematikan, misalnya TBC, kanker, Pneumonia dan lainnya.

Penyebab Seseorang Terjangkit HIV atau AIDS

Penyebaran Human Immunodeficiency Virus terbagi menjadi 2, yakni melalui penggunaan narkotika suntik dan melalui hubungan seks tidak aman.

HIV cara penularannya bukan melalui udara, jadi penularannya tidak semudah itu pada orang lain. Virus berbahaya ini hidup dalam aliran darah serta beberapa cairan pada tubuh.

Media penularan Human Immunodeficiency Virus antara lain : darah, ASI, alat bantu seksual, dinding anus, cairan vagina, darah menstruasi, dan sperma.

Human Immunodeficiency Virus tidak menular dari bersin, perlengkapan mandi, peralatan makan, gigitan serangga, nyamuk atau binatang lainnya. Cara virus ini bisa masuk aliran darah ialah:

  • Melalui luka yang terbuka pada kulit,
  • Melalui dinding tipis mulut, mata, kelamin, dan anus.
  • Melalui alat suntik yang langsung menembus pembuluh darah menggunakan jarum suntik yang terinfeksi.

Penyebaran Human Immunodeficiency Virus paling utama ialah dengan hubungan seksual, termasuk seks oral. Penyebaran Human Immunodeficiency Virus melalui oral akan tinggi risikonya apabila orang tersebut sedang sariawan maupun ada luka di mulutnya.

Penting diketahui Sebelum Terjangkit HIV / AIDS

Menurut data federal Amerika, pria homoseksual maupun pria dan wanita yang biseksual mempunyai risiko lebih tinggi sekitar 50 persen dalam penyebaran infeksi Human Immunodeficiency Virus.

Selain itu, kaum transgender juga memiliki risiko tinggi terhadap Human Immunodeficiency Virus sebab mereka juga memiliki kebiasaan buruk seks bebas.

Hal tersebut berdasarkan data WHO yang menyampaikan bahwa kaum transgender, homoseksual serta biseksual memiliki resiko sekitar 20 kali lipat lebih besar kemungkinannya untuk tertular Human Immunodeficiency Virus.

Bahkan berdasarkan data WHO, diketahui apabila 40 persen kaum homoseksual sudah terjangkit dan menderita penyakit berbahaya ini. Sedangkan sekitar 68 persen kelompok transgender sudah terjangkit dan menderita penyakit HIV / AIDS yang mematikan tersebut.

Jadi dapat dibayangkan apabila kebiasaan buruk seks bebas yang tidak sehat ini terus menerus dilakukan kaum transgender, biseksual dan homoseksual, maka penularan virus berbahaya ini dapat terus mengalami peningkatan secara drastis.

Ditambah lagi dengan stigma negatif yang diterima oleh kaum biseksual, homoseksual dan transgender, hal itu membuat sebagian mereka enggan melakukan tes kesehatan. Akibatnya sering kali terjadi keterlambatan diagnose dan penularan semakin merebak. Human Immunodeficiency Virus belum dapat disembuhkan secara medis, tetapi ada langkah antisipasi yang biasa diterapkan untuk melambatkan perkembangan penyakit.

Langkah darurat awal sebelum Anda dinyatakan benar-benar terjangkit yakni, apabila merasa baru saja melakukan kontak melalui media penyebaran HIV, maka dalam rentang masa 3×24 jam segeralah konsumsi obat antiHIV yaitu PEP (post exposure prophylaxis) yang berfungsi mengurangi risiko terjadinya infeksi. Langkah mengonsumsi PEP harus dimulai paling lambat 3 hari sesudah terpapar Human Immunodeficiency Virus.

Semakin cepat langkah pencegahan dengan obat PEP, maka akan lebih baik. Jangka waktu konsumsi PEP selama 1 bulan. Meskipun berfungsi mengurangi risiko infeksi dengan menurunkan kadar virus dalam aliran darah, tetapi tetap PEP tidak menjamin 100 persen akan berhasil.

Kemungkinan gagal PEP tetap masih ada. Sedangkan bagi perempuan hamil yang dinyatakan positif infeksi HIV, maka akan ada tindakan medis khusus bagi perempuan hamil, untuk mencegah terjadinya penularan virus kepada janin dalam kandungan.

Bagi perempuan yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus, disarankan tidak memberikan ASI pada bayinya karena virus dapat menular dari proses menyusui. Di Indonesia, ada beberapa komunitas, organisasi dan yayasan yang berfokus dalam urusan HIV dan AIDS, diantaranya yaitu :

1. KAI (Komunitas AIDS Indonesia)
2. Himpunan Abiasa
3. ODHA Indonesia
4. Yayasan Spiritia
5. YAI (Yayasan AIDS Indonesia)
6. Yayasan Orbit

Sedangkan lembaga milik pemerintah yang didiikan khusus untuk langkah penanganan HIV/AIDS yaitu KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional).

Pencegahan HIV / AIDS

Belum ada vaksin pencegah Human Immunodeficiency Virus, begitu pula obatnya belum ada untuk HIV / AIDS. Satu-satunya langkah efektif tercegah dari infeksi Human Immunodeficiency Virus ialah hidup dengan sehat dan tidak menyimpang.

Jauhi segala kegiatan yang mempertinggi risiko tertular, karena mencegah lebih baik dibandingkan mengobati. Jumlah pengidap Human Immunodeficiency Virus makin meningkat setiap tahunnya, seiring dengan meningkatnya pengguna narkotika dan meningkatnya perilaku seks menyimpang.

Jika tidak mengetahui status infeksi virus pasangan, maka gunakan selalu alat kontrasepsi atau kondom baru setiap melakukan hubungan seksual. Kondom merupakan bentuk perlindungan dari Human Immunodeficiency Virus maupun penyakit menular seksual lain. Hindari oral seks, terlebih lagi anal seks.

Pastikan juga kesterilan jarum saat melakukan transfusi darah atau menyuntikan obat medis. Jauhi narkotika, sebab narkotika melalui suntikan pada umumnya menggunakan jarum yang tidak steril.

Jauhi minuman keras, karena memicu perbuatan asusila seperti pemerkosaan yang beriko terserang virus HIV akibat berganti-ganti pasangan. Berkomitmen setia pada pasangan, karena Human Immunodeficiency Virus mengintai orang-orang yang tidak setia pada pasangan seksualnya. Hindari berhubungan seksual dengan wanita tuna susila (pekerja seks komersial) karena sebagian besar wanita tuna susila mengidap Human Immunodeficiency Virus (tahap awal atau tahap kedua)

Artikel Terkait :